Olimpiade TIK, Sarana Perjuanganku
Berbicara tentang manusia dalam kehidupan dizaman globalisasi tentunya sangat menarik, melihat kemajuan tekologi yang semakin pesat. Mengutip perkataan Pak Aranggi pada saat Seminar Parenting di Gedung A Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kamis (05/05/2016) kemarin yang mengatakan bahwa ''pada saat ini tidak ada lagi garis batas yang membatasi suatu wilayah".
Melihat realita yang terjadi memang tidak ada lagi pembatasan antara ruang dan waktu seiring dengan kemajuan teknologi sehingga membuat persaingan semakin ketat. Begitupun dengan kebutuhan manusia yang semakin hari semakin kompleks serta sifatnya yang manja. Dengan kondisi demikian membuat tuntutan akan adanya reformasi khususnya dalam bidang teknologi semakin tinggi. Sehingga para pemikir-pemikir hebat berlomba-lomba menciptakan inovasi baru untuk menjawab tantangan akan tuntutan globalisasi dan sifat manusia itu sendiri. Seperti halnya yang dilakukan oleh komunitas guru TIK/KKPI (KOGTIK) yang melaksanakan Olimpiade TIK Nasional. Bukan malah melakukan upaya peghapusan pada mata pelajar TIK dibangku sekolah, padahal kita tahu bagaimana pentingnya pelajaran TIK di zaman serba teknologi ini.
Melihat realita yang terjadi memang tidak ada lagi pembatasan antara ruang dan waktu seiring dengan kemajuan teknologi sehingga membuat persaingan semakin ketat. Begitupun dengan kebutuhan manusia yang semakin hari semakin kompleks serta sifatnya yang manja. Dengan kondisi demikian membuat tuntutan akan adanya reformasi khususnya dalam bidang teknologi semakin tinggi. Sehingga para pemikir-pemikir hebat berlomba-lomba menciptakan inovasi baru untuk menjawab tantangan akan tuntutan globalisasi dan sifat manusia itu sendiri. Seperti halnya yang dilakukan oleh komunitas guru TIK/KKPI (KOGTIK) yang melaksanakan Olimpiade TIK Nasional. Bukan malah melakukan upaya peghapusan pada mata pelajar TIK dibangku sekolah, padahal kita tahu bagaimana pentingnya pelajaran TIK di zaman serba teknologi ini.
![]() |
| Penulis saat mengikuti lomba blog (Foto: Tri B.H) |
Betapa bangganya Penulis terhadap dirinya endiri. Apa lagi, sebagai mana yang dikatakan oleh salah seorang panitia yang Penulis tanya disela-sela pembuatan artikel ini bahwa tujuan utama dilaksanakannya lomba Olimpiade ini adalah untuk mengembalikan TIK sebagai mata pelajaran di kurikulum 2013.
Merujuk pada sebuah kisah yang terdapat dalam sebuah cerita bahwa disaat Nabi Ibrahim dibakar oleh Raja Namrod, seekor semut membawa setetes air.
Seekor burung bertanya kepada semut, "untuk apa kamu membawa air itu?""Ini air untuk memadamkan api yang sedang membakar kekasih Tuhan, Ibrahim""Hahahaha... Tak akan berguna air yang kamu bawa" kata burung dengan tertawa."Aku tahu, akan tetapi dengan ini aku bisa menegaskan dipihak manakah aku berada.
Nah dengan demikian perasaan yang dirasakan oleh Penulis tentunya sangat bahagia. Karena dengan mengikuti lomba Olimpiade TIK ini khususnya dalam kategori menulis kegiatan di Blog. Melalui artikel yang ditulisnya merupakan sebuah kode keras bagi penentu kebijakan dan sekaligus merupakan suatu penegasan bahwa Penulis sangat tidak setuju dengan penghapusan TIK dibangku sekolah.
Tidakkah kita melihat talenta pakar-pakar IT Indonesia yang sangat terkenal seperti Onno W. Purbo dan Indra Charismiadji. Ataukah, apakah kita tidak memikirkan masa depan generasi muda kita
Tidakkah kita melihat talenta pakar-pakar IT Indonesia yang sangat terkenal seperti Onno W. Purbo dan Indra Charismiadji. Ataukah, apakah kita tidak memikirkan masa depan generasi muda kita
![]() |
| Suasana Lomba Robotik pada Olimpiade TIK Nasional 2016 |
Sungguh kebijakan yang kurang tepat menurut Penulis jika TIK dihapus sebagai mata pelajaran, mengingat kita hidup di zaman bangsa yang besar bukan lagi bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Akan tetapi, bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki tingkat pengetahuan tentang teknologi yang kuat.
Maka dari itu dalam penghapusan mata pelajaran TIK dibangku sekolah mesti dipertimbangkan secara matang, apa lagi kita sudah masuk dalam MEA yang membutuhkan pemahaman teknologi yang tinggi dan suatu saat nanti teknologi akan menjadi modal utama pembangunan ekomomi negeri ini.
Olehnya itu, Penulis sangat mengharapkan kembalinya TIK kedalam kurikulum 2013. Jangan sampai tunas-tunas bangsa kita menjadi generasi yang gagap teknologi sebagai dampak dari penghapusan TIK. Tentunya kita tidak mau hanya menjadi penonton dalam persaingan teknologi di dunia, tentunya kita tidak mau menjadi tamu di rumah sendiri, membiarkan orang asing yang kaya akan kecerdasan teknologi menjarah rumah kita yang kaya akan sumber daya alam dan unggul akan sumber daya manusia.
Mari dengan lantang bersuara "SAVE TIK & KKPI, HARGA MATI!"
Maka dari itu dalam penghapusan mata pelajaran TIK dibangku sekolah mesti dipertimbangkan secara matang, apa lagi kita sudah masuk dalam MEA yang membutuhkan pemahaman teknologi yang tinggi dan suatu saat nanti teknologi akan menjadi modal utama pembangunan ekomomi negeri ini.
Olehnya itu, Penulis sangat mengharapkan kembalinya TIK kedalam kurikulum 2013. Jangan sampai tunas-tunas bangsa kita menjadi generasi yang gagap teknologi sebagai dampak dari penghapusan TIK. Tentunya kita tidak mau hanya menjadi penonton dalam persaingan teknologi di dunia, tentunya kita tidak mau menjadi tamu di rumah sendiri, membiarkan orang asing yang kaya akan kecerdasan teknologi menjarah rumah kita yang kaya akan sumber daya alam dan unggul akan sumber daya manusia.
Mari dengan lantang bersuara "SAVE TIK & KKPI, HARGA MATI!"
![]() |
| Save TIK dan KKPI Harga Mati! (Sumber: http://kogtik.or.id/) |



Comments
Post a Comment