Orang miskin yang merdeka
![]() |
(Sumber gambar : google) |
Suatu pagi dibulan Agustus saat penulis duduk menikmati setiap tegukan kopi dengan semangat nasionalis yang seakan-akan membeludak. Refleksi indah pun hadir ditengah-tengah pahitnya tegukan kopi. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa bulan Agustus adalah bulan yang sangat istimewa bagi bangsa Indonesia, ya inilah bulan di mana Indonesia merdeka dari penjajahan Jepang 72 tahun silam. Tanggal 17 Agustus menjadi titik klimaks dari bulan Agustus, karena ditanggal itulah tepatnya bangsa Indonesia terbebas dari kerasnya kerja rodi dan kejamnya romusa.
Penulis merasa heran kenapa gambaran wajah merdeka justru tergambar dari warga miskin yang memiliki sejuta masalah dalam bidang sosial dan ekonomi.
Seperti tahun-tahun sebelumnya penulis selalu turut merasakan panasnya atmosfer perayaan kemerdekaan atau lazimnya disebut acara 17-an dikampung. Hiruk pikuk sorak dan tawa memecah keheningan di seluruh kampung. Antusias warga merayakan hari kemerdekaan jelas tergambar dari raut wajah yang penuh duka itu.
Seketika persoalan sosial dan ekonomi yang selama ini membebani hilang begitu saja. Hanya dihari ini saja (Kamis 17/8/17) para warga meninggalkan sepetak sawah dan kebunnya, menanggalkan cangkul dan sabitnya guna memadati bahu jalan. Mereka menyambut hari kemerdekaan dengan tanpa beban di raut wajah penuh keterbatasan itu.
Panjat pinang, tarik tambang, lari karung, sepak bola dan masih banyak lagi lomba-lomba yang mereka adakan guna memeriahkan hari kemerdekaan. Meski dengan kantong kempis mereka tetap berbondong-bondong ke tanah lapang. Inilah arti tanggal merah pada kalender ditanggal 17 Agustus 2017 dan begitulah mereka mengartikan kemerdekaan.
Berbeda dengan warga kota yang notabenenya masyarakat ekonomi menengah ke atas, justru kebanyakan menganggap tanggal merah 17 Agustus ini sama pada tanggal merah di hari ahad. Ya seperti hari libur biasanya mereka terbebas bebas dari tugas kantor dan bermalas-malasan di rumah. Berbekal peralatan canggih yang mereka miliki ia duduk manis menyaksikan euforia kemerdekaan yang dirasakan para warga miskin.
Kali ini jalanan didesa begitu padat, kemacetan pun tak bisa dihindari dan kemacetan ini hanya terjadi dihari merdeka. Berbeda dengan kota jalanan justru sepi tak ada pawai, marching band, dan juga gerak jalan.
Tak jarang mereka berpikir bahwa apa yang dilakukan para warga desa itu adalah hal yang buang-buang waktu. Kita tidak akan heran mengapa ia berpikiran seperti itu karena yang ada dipikirannya yakni waktu adalah uang, merdeka itu ketika kita bisa bebas membeli apa yang kita inginkan.
Pola pikir antara masyarakat desa dengan kota memang berbeda. Masyarakat kota selalu memikirkan bagaimana kebutuhannya bisa terpenuhi di hari esok, namun warga desa justru berpikir bagaimana ia hidup hari ini. Warga desa hidup dalam kenyataan, masyarakat kota hidup dalam bayang-bayang.

Comments
Post a Comment