Sekolah di Mata Masyarakat
Sekolah adalah bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran/menurut tingkatannya, ada sekolah dasar, sekolah lanjutan, dan sekolah tinggi(KKBI dalam Poerwadarminta: 1999). Namun, dimasa dewasa ini orang-orang sudah mengartikan sekolah sebagai sebuah kebutuhan yang mendarah daging seiring perkembangan zaman. Sekolah mengambil peran penting di kehidupan kita dan sedemikian rupa ‘mentardisi’ dan nyaris menjadi segala-galanya dalam kehidupan demi masa depan yang kita impikan. Merasuk ke dalam jiwa dan pikiran sehingga mempengaruhi paradigma kita dengan menyeragamkan keberagaman. Sehingga sedemikian rupa membentuk jati diri kita. Sekolah telah menjadi sebuah imperatif budaya, semacam penyakit ke tidak sadaran kolektif, sehingga hampir seluruh orang merasa bahwa tidak ada lagi masa depan untuk mereka yang gagal dalam sekolah, baik tidak sekolah, putus sekolah, atau pun gagal dalam mencapai tingkatan sekolah tertentu. Apa lagi jika lembaga sekolah itu sendiri seperti Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Universitas yang secara terang-terangan menyatakan penolakan dengan berbagai alasan. Orang itu tentunya mau tidak mau, suka atau tidak suka akan diberikan label sebagai orang gagal dimasyarakat. Parahnya lagi seiring berjalannya waktu ia pun merasakan hal demikian, meng-aminkan label yang diberikan oleh masyarakat, bahwa dirinya memang benar-benar telah gagal. Pandangan ini secara tidak sadar menjadikan lembaga sekolah sebagai "Tuhan" tandingan atas perannya dalam hal menentukan masa depan seseorang.
Dalam dewasa ini seseorang juga hanya akan diakui berdasarkan gelar yang ada di belakang namanya yang mereka dapatkan dari bangku sekolah dalam hal ini adalah gelar akademik. Ketika seseorang dengan nama yang memiliki gelar yang ia dapatkan dari bangku sekolah datang ke tengah-tengah masyarakat pasti akan dianggap lebih hebat dari seluruh orang yang ada disana. Ukuran kepintaran seseorang semata-mata berada dalam nilai matematika, fisika dan kimia.
Kita terkadang lupa bahwa tuhan telah memberikan kelebihan pada setiap manusia. Begitu pun dengan kekurangan karena tidak ada orang yang sempurna didunia ini.
Tidak bisa dipungkiri hal serupa memang terjadi dalam kehidupan kita. Tindakan diskriminatif berupa bullying terhadap orang yang tidak mau atau pun putus sekolah kerap kali mereka dapatkan. Mitos tumbuh subur dalam paradigma masyarakat tentang sekolah. Tentu paradigma bukan serta merta tercipta begitu saja melainkan melalui proses yang panjang dalam sejarah. Berangkat dari masa lalu yang bukan hanya sekedar teori akan tetapi serangkaian pengalaman yang pahit.

Comments
Post a Comment